Skip to main content

Korea "Demam" Belajar Islam, Indonesia Malah "Demam" K-Pop

Video: Remaja Korea Belajar Al-Qur'an

remaja korea belajar islam imgWarga Korea Selatan sudah lama sedang demam untuk mempelajari Islam sehingga berbondong-bondong masuk Islam. Namun di lain pihak remaja Indonesia malah gandrung dengan budaya Korea (K-Pop).

"Kab. Bandung menjalin kerja sama kota kembar dengan sebuah kota di Korea sehingga saya pernah beberapa kali ke Korea," kata Bupati Bandung, H. Dadang M. Naser,saat membuka imtihan dan festival anak saleh Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kab. Bandung di Desa Cinunuk, Cileunyi, Minggu (23/12).

Lebih jauh Dadang Naser mengatakan, masyarakat Korea Selatan sedang gandrung mempelajari Islam sehingga setiap saat ada warga yang masuk Islam.

"Di lain pihak generasi muda kita malah gandrung ke budaya Korea. Ini lah perang peradaban yang datang dari mana saja," katanya.

Video: Remaja Korea Belajar Mengaji



Video: Park Dong Shin, Mualaf asal Korsel yang jatuh cinta dengan Al Qur'an



Siapa Park Dongsin?

Untuk mengantisipasi makin maraknya budaya yang merusak, Dadang Naser mengajak agar masyarakat membentengi anak-anaknya dengan tauhid yang kuat. "Benteng akidah harus dari sejak kecil dimulai dari keluarga," katanya dalam acara yang dihadiri ribuan kader dan warga LDII Kab. Bandung.(A-71/A-107)

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/216150

Popular posts from this blog

Alasan Paquita Widjaya Masuk Islam

Angin dan Badai Mengantarkan Paquita Widjaya Kepada Islam Paquita Wijaya , itulah namaku. Sejak lahir aku memeluk agama Kristen Protestan. Kesempatan pernah mengenyam pendidikan Barat di Parsons School of Design New York, membuat cara berpikirku sangat rasional. Apalagi aku dibesarkan dalam kultur keluarga yang demokratis. Termasuk dalam menyikapi agama. Namun setelah rasioku ditundukkan oleh kenyataan bahwa kekuasaan Allah itu benar ada, aku pun bersyahadat dan masuk Islam. Sudah lama aku tertarik dengan Islam. Kupikir, ini agama yang paling rasional. Perlahan, aku tertarik dengan ritual Islam yang dijalankan Tanteku, seorang muslimah yang sempat tinggal bersama keluargaku. Tapi hingga suatu saat aku suting di pulau Nias, Sumatera Utara, aku belum juga memeluk Islam. Inilah awalnya.... Pulau Nias tiap hari diguyur hujan lebat, disertai angin dan badai. Dua bulan tim kami terperangkap di pulau itu. Tak ada pesawat yang berani terbang di tengah cuaca buruk. Padahal, aku harus se...

Kisah Musuh Islam "Daniel Streich" Jadi Muallaf

Daniel Streich, Dedengkot Musuh Islam kini Masuk Islam Setelah kampanye, yang dipimpin oleh Partai Rakyat Swiss, untuk melarang pembangunan menara tempat adzan di masjid – masjid, muncul kabar yang mengejutkan. Salah seorang pemimpin partai tersebut mengumumkan masuk Islam. Opini publik Swiss bersama dengan jutaan orang di dunia ini dikejutkan dengan seorang pemimpin politik, Daniel Streich , yang memimpin kampanye terakhir terhadap laragan membangun menara masjid di Swiss selama beberapa tahun terakhir, mengumumkan keislamannya di salah satu media Swiss. Ia menegaskan bahwa ia mengalami perubahan yang drastis setelah mengetahui nilai – nilai dan prinsip – prinsip Islam. ......sesungguhnya Swiss membutuhkan pembangunan masjid dan menara lebih untuk merangkul anak – anak bangsa dari kaum Muslimin... Perubahan Terjadi Setelah Mengenal Islam Pemimpin politik itu mengatakan bahwa ia terpaksa untuk mengkaji dan mendalami prinsip – prinsip Islam dalam upaya kampanye anti Islam. Ia...

Kisah Bernard Nababan Jadi Mualaf

Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Namun, kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada kebenaran Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam. Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan . Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka. Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu ...