Skip to main content

Hidayah di Eropa Setelah Masuk Islam

Peningkatan Jumlah Muallaf di Kota Inggris

Di Kota Leeds, Inggris, para mualaf tak pernah merasa terkucil dan terasing. Mereka memiliki naungan organisasi yang selalu menjaga. Di sanalah mereka berkumpul, menempa ilmu agama dan memiliki keluarga baru. Leeds New Muslimin (LNM), demikian nama organisasi yang menaungi mereka.

muallaf di eropaBanyak aktivitas yang dihelat LNM khusus untuk para mualaf di kota terbesar ketiga Inggris itu. Tujuan organisasi tersebut memang memberikan bantuan dan dukungan kepada para Muslimin yang baru bersyahadat. Tak hanya memberikan informasi serta Alquran dan buku keislaman secara gratis, mereka juga membantu siapa saja warga yang ingin bersyahadat.

Setelah berislam, para mualaf pun tak perlu khawatir ataupun bingung. LNM mengadakan banyak kegiatan bimbingan untuk mereka, seperti pelatihan shalat, puasa, dan ibadah lain. Tak hanya itu, terdapat pula per temuan para mualaf yang bersifat kekeluargaan dan re freshing, seperti jalan-jalan, per te muan social, hingga pesta barbeque.

“Leeds New Muslimin (LNM) merupakan kelompok pendukung para mualaf ataupun yang berkepentingan tentang Islam. Kami membantu mualaf dalam berbagai bidang,” ujar web resmi LNM.

Kegiatan yang baru-baru ini dihelat LNM, yakni kajian tiga aspek fundamental Islam (Islam, iman, ihsan). Mereka meng undang ulama dari Spanyol, Syaikh Ali Laraki, untuk membimbing para mualaf memahami tonggak agama itu. Acara ini menjadi bagian studi yang didapatkan mualaf di kota yang berlokasi di Yorkshire Barat, Inggris, tersebut.

Inggris memang mengalami peningkatan jumlah mualaf yang signifikan. Selama satu dekade terakhir, terdapat peningkatan jumlah Muslimin hingga 80 persen. Pada 2001, Muslimin Inggris hanya berjumlah 1,5 juta. Pada 2011 jumlahnya meningkat menjadi 2,7 juta jiwa. Saat ini, satu dari 20 orang di Inggris menganut agama Islam.

Sumber : Republika & Buku Islami

Popular posts from this blog

Alasan Paquita Widjaya Masuk Islam

Angin dan Badai Mengantarkan Paquita Widjaya Kepada Islam Paquita Wijaya , itulah namaku. Sejak lahir aku memeluk agama Kristen Protestan. Kesempatan pernah mengenyam pendidikan Barat di Parsons School of Design New York, membuat cara berpikirku sangat rasional. Apalagi aku dibesarkan dalam kultur keluarga yang demokratis. Termasuk dalam menyikapi agama. Namun setelah rasioku ditundukkan oleh kenyataan bahwa kekuasaan Allah itu benar ada, aku pun bersyahadat dan masuk Islam. Sudah lama aku tertarik dengan Islam. Kupikir, ini agama yang paling rasional. Perlahan, aku tertarik dengan ritual Islam yang dijalankan Tanteku, seorang muslimah yang sempat tinggal bersama keluargaku. Tapi hingga suatu saat aku suting di pulau Nias, Sumatera Utara, aku belum juga memeluk Islam. Inilah awalnya.... Pulau Nias tiap hari diguyur hujan lebat, disertai angin dan badai. Dua bulan tim kami terperangkap di pulau itu. Tak ada pesawat yang berani terbang di tengah cuaca buruk. Padahal, aku harus se...

Kisah Musuh Islam "Daniel Streich" Jadi Muallaf

Daniel Streich, Dedengkot Musuh Islam kini Masuk Islam Setelah kampanye, yang dipimpin oleh Partai Rakyat Swiss, untuk melarang pembangunan menara tempat adzan di masjid – masjid, muncul kabar yang mengejutkan. Salah seorang pemimpin partai tersebut mengumumkan masuk Islam. Opini publik Swiss bersama dengan jutaan orang di dunia ini dikejutkan dengan seorang pemimpin politik, Daniel Streich , yang memimpin kampanye terakhir terhadap laragan membangun menara masjid di Swiss selama beberapa tahun terakhir, mengumumkan keislamannya di salah satu media Swiss. Ia menegaskan bahwa ia mengalami perubahan yang drastis setelah mengetahui nilai – nilai dan prinsip – prinsip Islam. ......sesungguhnya Swiss membutuhkan pembangunan masjid dan menara lebih untuk merangkul anak – anak bangsa dari kaum Muslimin... Perubahan Terjadi Setelah Mengenal Islam Pemimpin politik itu mengatakan bahwa ia terpaksa untuk mengkaji dan mendalami prinsip – prinsip Islam dalam upaya kampanye anti Islam. Ia...

Kisah Bernard Nababan Jadi Mualaf

Menjadi seorang pendeta adalah harapan kedua orang tuanya. Namun, kehendak Allah SWT mengantarkan Bernard Nababan pada kebenaran Islam. Bahkan, ia akhirnya menjadi juru dakwah dalam agama Islam. Saya lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 10 November 1966. Saya anak ke-3 dari tujuh bersaudara. Kedua orang tua memberi saya nama Bernard Nababan . Ayah saya adalah seorang pendeta Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Sumatra Utara. Sedangkan, ibu seorang pemandu lagu-lagu rohani di gereja. Sejak kecil kami mendapat bimbingan dan ajaran-ajaran kristiani. Orang tua saya sangat berharap salah seorang dari kami harus menjadi seorang pendeta. Sayalah salah satu dari harapan mereka. Kemudian, saya disekolahkan di lingkungan yang khusus mendidik para calon pendeta, seperti Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Kristen. Lalu berlanjut pada Sekolah Tinggi Teologi (STT) Nomensen, yaitu ...